
Indonesia, Jepang, Ponsel, dan Pendidikan
Senin, 5 Mei 2008Tanggal 2 Mei adalah hari pendidikan nasional Indonesia. Tapi setelah berapa tahun kita memperingati hari yang sama, tapi kualitas pendidikan masih seperti yang bisa kita lihat. Bahkan cenderung menurun. Kurikulum belum stabil, masih terlalu banyak coba-coba. Akhirnya ya hasil pendidikannya coba-coba.
HDI ( Human Development Index ) Indonesia pada tahun 2007/2008 berada pada nomor 107. Setingkat dibawah negara Palestina yang negaranya sering digempur misil Israel. Kita kalah sama negara yang dalam kondisi sering diserang misil ?? Padahal negara kita bisa dibilang jauh lebih damai.
Kalo bicara pendidikan, aku selalu berpikir Jepang. Orang bilang belajar dari sejarah. Dulu Jepang habis di bom, tentu saja mengalami kekalahan besar. Militer di embargo. Tapi yang menarik itu satu : mereka mengutamakan pembangunan dalam sektor pendidikan. Dengan anggapan bahwa pendidikan yang maju akan turut serta meningkatkan pembangunan sektor lain.
Ya… masyarakat berpendidikan secara tidak langsung akan meningkatkan sektor riset dan teknologi. Begitu juga sektor lain. Yang harus digarisbawahi memang “secara tidak langsung”. Karena memang hasilnya gak bisa dalam 1 atau 2 tahun. Bahkan bisa 10 tahun kemudian. Tapi hasilnya ? Jepang sekarang bisa menghasilkan robot “cerdas”. Bisa main orkestra.
Aku yang belajar tentang Intelligent System, tahu kalo itu adalah hal yang sangat sulit.
Pendidikanlah yang membuat rakyat suatu negara siap menerima teknologi baru. Siap disini tentu saja tau menggunakan teknologi dengan benar. Dengan benar disini tentu saja tau etika menggunakannya, dan memberdayakan sepenuhnya.
Paling gampang kasus ponsel di Indonesia. Pernah tau orang menggunakan ponsel sambil menyetir kendaraan ? itu kan tidak beretika. Orang lagi nyetir mobil yang tergolong mahal, tapi kok mobilnya lambat ? padahal di jalur cepat. Ketika disalip dari kiri ( terpaksa ), ternyata orangnya lagi pakai ponsel sambil nyetir.
Terus pernah tau ada orang beli ponsel 3G tapi gak dipakai 3Gnya ? Aku gak tau soalnya dan bukan itu yang mau kubahas.
Tapi orang Indonesia yang cenderung beli ponsel untuk gaya. Beli yang mahal dengan kamera 5 MP, hanya untuk dipamerkan. Hanya untuk Gaya. Tapi kalo menurutku itu masih wajar. Orang bisa beralasan praktis. Ada kameranya jadi bisa dibawa kemana-mana.
Hmm… ada yang tau Nokia communicator ? Pernah lihat anak SMA bawa communicator ? Memang, jelas beda dengan yang lain. Lebih gaya, dan kesannya kaya. Tapi apakah dia udah memanfaatkan teknologi didalamnya secara maksimal ? Transfer data menggunakan koneksi internet yang tersedia ? Mobile business ? atau fasilitas lainnya ? Aku kira tidak sepenuhnya.
Kita harus melatih kebiasaan “pemanfaatan teknologi dengan maksimal”. Kalo memang butuh 3G, ya belilah 3G atau yang bisa koneksi 3,5G. Kalo memang butuh SMS atau telpon aja, ya gak usah beli yang mahal-mahal lah. Kalo pun ada Kamera, 3G , atau MP3 Playernya, anggaplah nilai tambah. Mungkin “investasi jangka panjang” kalo memang punya uang lebih.
Terus apa hubungannya ponsel dengan pendidikan ? Ya itu… ada orang beli ponsel muaaahal dengan segala fiturnya, tapi padahal cuma buat SMS dan telpon. Habis itu dia nyetir mobil mahal dengan lambat, padahal lagi di jalur cepat ,sambil menggunakan ponsel, dan belum lagi kalo ditelusuri dia ternyata bingung mau nulis SMS masuk menu yang mana
. Wuih… mantep. Itulah salah satu hasil pendidikan di Indonesia…
Itu masih ponsel. Belum yang lain…
Tapi sekali lagi, pendidikan bisa membuat rakyat menerima teknologi. Sekarang dari pendidikannya itu sendiri. Jepang dengan sistem pendidikannya, ternyata tidak bisa mencegah 83 orang bunuh diri setiap harinya pada seluruh tahun 2002. Bahkan ada yang menulis setiap 15 menit orang Jepang bunuh diri. Jepang mengagungkan sex sebagai dewa. Jadi jangan heran kalo industri sex disana sangat besar.
Jepang mengalami dalam beberapa tahun ini. Diperkirakan populasinya mengalami pertumbuhan negatif tiap tahunnya. Dalam arti populasi akan menurun tiap tahunnya dimulai tahun 2007 yang tingkat pertumbuhannya adalah -0.088% . Bahkan diperkirakan pada tahun 2100 penduduk Jepang menjadi 70 juta orang saja.
Jepang mengalami piramida terbalik dalam komposisi penduduk tua dan mudanya. Tingkat kematian tinggi ( kebanyakan bunuh diri ), sementara tingkat natalitas rendah. Dan kasus bunuh diri tetap saja mulai tahun 2002, tidak berkurang. Bahkan anak SD pun pernah bunuh diri hanya karena diolok-olok oleh temannya.
Apa yang salah ? Jika kita melihat sisi negatif Jepang, cukup mengejutkan. Negara maju dengan teknologi tinggi, ternyata mempunyai masalah yang sangat aneh : bunuh diri dan tidak seimbangnya demografi penduduknya.
Sementara Indonesia dengan kondisi-yang-sudah-diketahui, tidak sefrustasi orang Jepang. Bahkan demografi masih seimbang. Bahkan pernah ada survey kebahagiaan. Orang Indonesia dikatakan lebih bahagia dibanding beberapa negara maju.
Yang terjadi di Jepang cukup mengejutkan. Sekarang adanya penyisipan materi dalam sistem pendidikan Jepang. Mau tau ? Materi AGAMA. Ya… agama disini adalah lebih mengajarkan “kemana kita dalam hidup ini. Esensi kehidupan. Dan bagaimana kita menyikapi hidup“. Ya… esensi kehidupan. Itulah yang ingin ditanamkan Jepang ke rakyatnya yang akan meneruskan negara Jepang.
Ya.. kenapa Indonesia lebih bahagia ? Karena adanya agama yang membuat orang optimis. Jepang ? Pernah disruvey bahwa lebih dari 80% ( aku lupa tepatnya ) pemuda di Jepang ke kuil karena untuk menyenangkan orang tua mereka. Bukan karena keinginan sendiri. Bukan untuk berdoa ke dewa. Karena untuk menyenangkan orang tua. Ada yang mengambil simpulan bahwa mereka atheist. Tapi itu soal lain lagi.
Orang Jepang mencegah bunuh diri dengan melalui sistem pendidikan. Hmm… lagi-lagi pendidikan. Dan Jepang ternyata mengambil langkah tidak terduga : pendidikan agama. Bagaimana dengan Indonesia ? sistem pendidikan yang cenderung mencetak generalist yg gak tau apa-apa ? ( perlu diketahui : S1 di Jepang itu 118 SKS, sementara di Indonesia 144 SKS ) . Belum lagi dengan kurikulum yang berubah-ubah
Orang banyak korupsi ? mungkin karena mereka tidak terdidik untuk merawat milik publik. Kemaren aku THR sempat melewati tempat yang bau ludah. Behh… itu kan gak bisa merawat milik publik, sembarang ngeludah di mall.
Fasilitas publik ? Masih ingat lampu di taman hilang, atau besi untuk konstruksi jembatan antar pulau diambil seenaknya ? Ya itu karena kurang pendidikan masyarakat…
Ah… kapan APBN dialokasikan 20% untuk pendidikan dan itu bersih tanpa dikorupsi ? Kapan ya ? Semoga Pemilu 2009 ini nanti bisa membawa perubahan…
[ Semoga pendidikan nasional lebih baik untuk kedepannya ]
mm panjang
btw ada hal yg jelek dari Jepang. angka bunuh dirinya tinggi

soalnya kalo dapat tekanan seperti kayu rapuh
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SITUS “Leoxa.com”
(Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
hmmm
ngomongin jepang…
jadi inget miyabi…
HALAH!!!!
hehhehehhehe
memang pendidikan itu harus disesuaikan dengan kebutuhan , pendidikan sistem Jepang belum tentu berhasil di Amerika, punya Amerika belum tentu berhasil bila diterapkan di indonesia dan seterusnya …
memang rumit ya masalahnya …